Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan
Kabut asap masih menjadi ancaman di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan.

KALIMANTAN, PantauKabar.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman di Kalimantan, terutama di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Meski jumlah titik panas mulai menurun, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan memadamkan api belum selesai, sementara warga masih harus menghadapi dampak buruk dari asap yang menyebar.

Berdasarkan laporan detikKalimantan pada Minggu (18/10/2026), jumlah titik panas di Kotawaringin Barat turun menjadi sekitar 350 hingga 365 titik dalam dua hari terakhir. Angka tersebut menurun dibandingkan periode sebelumnya, ketika titik panas sempat mencapai 500 hingga lebih dari 1.000 titik. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk memastikan situasi telah aman karena asap masih terpantau menyebar di wilayah kabupaten tersebut.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Iskandar, Afif Rowina Khairi, menyebutkan bahwa pergerakan asap terpantau mengarah ke barat laut hingga timur laut. BMKG mengingatkan bahwa berkurangnya titik panas tidak serta-merta menandakan berakhirnya ancaman kabut asap. Masyarakat pun diminta tetap waspada terhadap perubahan kondisi udara dan dampaknya bagi kesehatan.

Kebakaran Gambut Menjadi Tantangan

Penanganan karhutla di Kalimantan Tengah tidak hanya menghadapi persoalan banyaknya titik api, tetapi juga kondisi lahan gambut yang membuat kebakaran sulit dikendalikan. Api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan kembali muncul ketika kondisi lingkungan masih kering. Karena itu, pemadaman membutuhkan penanganan menyeluruh, termasuk pemeriksaan ulang terhadap lokasi yang telah dipadamkan.

Di Kotawaringin Barat, pemerintah daerah telah menetapkan sejumlah lokasi prioritas penanganan, yakni kawasan sepanjang Jalan Pangkalan Bun–Kotawaringin Lama, Desa Tanjung Putri, dan Taman Nasional Tanjung Puting. Ketiga lokasi tersebut menjadi perhatian karena berkontribusi terhadap persoalan kabut asap di wilayah setempat.

Upaya pemadaman dilakukan melalui koordinasi petugas gabungan dan pemantauan kondisi kebakaran. Pemerintah juga mengharapkan dukungan tambahan untuk memperkuat penanganan di lapangan, terutama pada kawasan yang sulit dijangkau. Langkah tersebut diperlukan agar api tidak terus meluas dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai

Ancaman karhutla tidak berhenti pada lahan yang terbakar. Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara, mengurangi jarak pandang, serta mengganggu kegiatan masyarakat. Anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika paparan asap meningkat.

Data pada dasbor pemantauan BPBD Kotawaringin Barat pada 18 Oktober 2026 pukul 13.08 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat PM2.5 di Pangkalan Bun mencapai 346,2 mikrogram per meter kubik, dengan kategori tidak sehat. Data tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan kualitas udara secara berkala, sebab kondisi dapat berubah mengikuti cuaca dan pergerakan asap.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang sesuai saat harus bepergian, serta menutup pintu dan jendela apabila asap masuk ke dalam rumah. Warga yang mengalami sesak napas atau keluhan serius sebaiknya segera mencari pertolongan medis.

Menunggu Hujan, Memperkuat Pencegahan

Harapan untuk meredakan karhutla juga tertuju pada potensi hujan yang diperkirakan muncul secara bertahap menjelang akhir Oktober. Meski demikian, hujan tidak selalu turun merata di seluruh wilayah terdampak sehingga upaya pemadaman tidak dapat bergantung pada perubahan cuaca semata.

Penurunan titik panas menjadi perkembangan positif, tetapi belum menjadi alasan untuk mengendurkan kewaspadaan. Pemantauan, pemadaman, dan pencegahan kebakaran perlu terus dilakukan hingga kondisi benar-benar terkendali.

Karhutla di Kalimantan bukan hanya persoalan api yang membakar lahan, melainkan juga ancaman terhadap kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Selama kabut asap masih menyelimuti wilayah terdampak, perjuangan untuk memulihkan kondisi belum dapat dikatakan selesai.



Alfiyan akbar Rozi
Penulis Kontributor
Alfiyan akbar Rozi
📚 Informatics Student | UTY 🎥 Crew branding&sosial mediastrategis@persewaan_proyektor_yogyakarta 🌐 Trilingual (ID | EN | AR) 📍 Yogyakarta |
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang
  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang
  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang
  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang
  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang
  • Kalimantan Masih Berjuang Melawan Karhutla, Kabut Asap Belum Hilang