Bima Dilanda Kekeringan Ekstrem, 125 Hari Tanpa Hujan
![]() |
| Kabupaten Bima mengalami kekeringan ekstrem dengan Hari Tanpa Hujan mencapai 125 hari. Sumber: BMKG. |
KABUPATEN BIMA, PantauKabar.com - Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tengah menghadapi kekeringan ekstrem. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah Kabupaten Bima telah mencapai 125 hari, atau lebih dari empat bulan tanpa turun hujan.
Kondisi ini tentu menjadikan kota Bima sebagai salah satu wilayah dengan kekeringan paling parah di NTB. Berdasarkan pemantauan BMKG, HTH terpanjang terjadi di Kecamatan Belo dan Bolo. Kondisi ini menjadi perhatian karena berlangsung cukup lama dan berpotensi meningkatkan risiko kekurangan air bersih bagi masyarakat.
Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Cakra Mahasurya Atmojo Pamungkas mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak. Imbauan tersebut diberikan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan meningkatnya kebutuhan air bersih selama periode kekeringan.
“Penggunaan air secara bijak” menjadi salah satu langkah penting yang perlu dilakukan masyarakat mengingat hujan belum merata di wilayah NTB. Kondisi kering yang berlangsung panjang juga dapat memberikan dampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama sektor pertanian dan ketersediaan sumber air.
Sejumlah Wilayah Bima Masuk Status Awas
Kekeringan Bima tidak hanya terjadi di satu wilayah. Berdasarkan peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG untuk Dasarian II September 2026, sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima masuk dalam kategori Awas kekeringan meteorologis.
Wilayah tersebut antara lain Kecamatan Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Palibelo, Sape, dan Soromandi. Sementara itu, di Kota Bima, Kecamatan Raba juga masuk dalam wilayah yang mendapatkan peringatan kekeringan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekeringan di wilayah Bima perlu menjadi perhatian, terutama karena masyarakat masih harus menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah keterbatasan air.
El Niño Sangat Kuat Perparah Kekeringan
BMKG menjelaskan kondisi kekeringan saat ini tidak terlepas dari pengaruh fenomena El Niño yang berada pada intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam konferensi pers pada 22 September 2026, BMKG menyampaikan bahwa anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 pada akhir Agustus mencapai +2,83, sementara indeks ENSO periode Juli-Agustus-September berada di angka +2,63. BMKG menyebut kombinasi El Niño dan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) turut memperpanjang periode kekeringan di sebagian wilayah Indonesia.
Dampaknya tidak hanya dirasakan Bima. BMKG mencatat ratusan Zona Musim di Indonesia masih mengalami musim kemarau. Bahkan, 98 Zona Musim yang secara klimatologis biasanya memiliki hujan sepanjang tahun ikut mengalami kondisi kering pada 2026.
Musim Hujan Diprediksi Datang Lebih Lambat
Masyarakat Bima dan wilayah NTB lainnya juga masih perlu bersabar menghadapi kondisi tersebut. BMKG memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
Meski demikian, BMKG memperkirakan ancaman kekeringan akan berangsur berakhir ketika musim hujan mulai masuk secara bertahap pada periode Oktober hingga Desember 2026. Fenomena El Niño sendiri diproyeksikan masih bertahan hingga kuartal pertama 2027.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat di wilayah yang mengalami kekeringan diimbau tetap menghemat penggunaan air dan mengikuti informasi resmi BMKG maupun pemerintah daerah. Langkah tersebut penting dilakukan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang masih berpotensi berlangsung sebelum hujan turun secara lebih merata.
