Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Perasaan Hati dan Akal

Merasa
Setiap langkah ada tujuannya, seperti penggembala sapi, menuntun bukan hanya sapi tapi tanggung jawab dan rezeki keluarga.


MATARAM, Pantau.Kabar.com
- Dalam kehidupan yang serba cepat dan penuh tuntutan, kita seringkali terlupa untuk benar-benar “MERASA”: baik merasa bahagia, bersyukur, maupun merasa dengan keikhlasan. Rasa adalah kekuatan dasar yang menghubungkan hati dan akal kita dalam memahami makna hidup. Gus Dur pernah menyampaikan, "Jangan hanya merasa menjadi orang besar karena kekuasaan, tetapi merasa menjadi bagian dari manusia yang memiliki tanggung jawab moral". 

Kata-kata ini mengingatkan kita pentingnya rasa yang penuh kesadaran akan tanggung jawab dan keikhlasan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf 50: 16).

René Descartes, mengedepankan pemikiran dan perasaan sebagai basis pengetahuan, yaitu "Aku berpikir, maka aku ada". Artinya, keberadaan dan identitas manusia tidak lepas dari rasa dan keberanian untuk MERASA. Pengalaman emosional dan rasa empati berkontribusi besar terhadap kesehatan mental dan hubungan sosial yang sehat. Melalui rasa, kita belajar berempati, menerima, dan bersyukur.

Merasa adalah hakikat kemanusiaan. Jangan biarkan perasaan kita mati atau terkubur oleh kesibukan dan kekhawatiran dunia. Sebaliknya, jadikan rasa sebagai pondasi untuk memperkuat iman, moral, dan hubungan dengan sesama. Rasa adalah pintu menuju pencerahan, kedamaian, dan kebahagiaan sejati.

Duta jr 10
Penulis Kontributor
Duta jr 10
Kontributor Pantau Kabar
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Perasaan Hati dan Akal
  • Perasaan Hati dan Akal
  • Perasaan Hati dan Akal
  • Perasaan Hati dan Akal
  • Perasaan Hati dan Akal
  • Perasaan Hati dan Akal