Karhutla Makin Meluas di Kalimantan, 1.842 Titik Panas Terdeteksi
KALIMANTAN, PantauKabar.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan masih menjadi perhatian serius pemerintah. Di tengah kondisi musim kemarau, ribuan titik panas terpantau di sejumlah provinsi di Pulau Kalimantan sehingga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) yang dipantau melalui satelit NASA-NOAA 20 pada Jumat (21/8/2026) pukul 14.14 WIB, tercatat 1.842 titik panas di lima provinsi di Kalimantan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.832 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang (medium confidence), sementara 10 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).
Kalimantan Tengah Catat Titik Panas Terbanyak
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak. Kondisi tersebut membuat provinsi ini menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian dalam upaya pengendalian karhutla.
Selain Kalimantan Tengah, titik panas juga terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara. Sebaran titik panas tersebut terus dipantau untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
BNPB menegaskan bahwa data titik panas digunakan sebagai salah satu instrumen deteksi dini. Temuan hotspot tetap membutuhkan verifikasi di lapangan karena satu titik panas tidak selalu berarti satu kejadian kebakaran.
Karhutla Terjadi di Sejumlah Wilayah
Selain tingginya jumlah titik panas, sejumlah kejadian karhutla juga dilaporkan terjadi di berbagai daerah Kalimantan.
Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, kebakaran terjadi di Kecamatan Tanah Grogot, Batu Sopang, dan Batu Engau. Kebakaran yang terjadi di kawasan taman konservasi tersebut menghanguskan sekitar 25,29 hektare lahan yang didominasi semak belukar dan gambut. Api berhasil dipadamkan pada Kamis (20/8), namun petugas tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya titik api kembali.
Karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada Rabu (19/8), kebakaran dilaporkan terjadi di beberapa lokasi dengan total luas lahan terdampak mencapai 49,55 hektare.
Lokasi kebakaran antara lain Desa Loa Gagak, Kelurahan Spontan Mangkurawang, Kelurahan Pendingin, Desa Kayu Bata, Kelurahan Muara Kembang, serta Desa Kota Bangun Hulu. Dari sejumlah lokasi tersebut, Kelurahan Pendingin menjadi wilayah dengan area terbakar terbesar, yakni sekitar 42 hektare.
BNPB Kerahkan Operasi Udara dan Darat
Mengantisipasi kondisi tersebut, BNPB memperkuat penanganan karhutla melalui operasi darat dan udara di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Operasi udara dilakukan melalui patroli untuk mendeteksi perkembangan kebakaran, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta water bombing untuk membantu pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau dari darat.
Di Kalimantan Selatan, misalnya, BNPB mengerahkan pesawat Cessna Caravan 208 untuk mendukung patroli udara. Sementara operasi water bombing didukung helikopter Sikorsky Black Hawk.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama di wilayah dengan kondisi lahan kering dan mudah terbakar.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
BNPB mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan selama periode musim kemarau. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dinilai berisiko memicu kebakaran, terlebih ketika kondisi vegetasi dan lahan relatif kering.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api kepada aparat atau BPBD setempat sehingga dapat dilakukan penanganan sedini mungkin.
Pemerintah daerah bersama unsur gabungan terus melakukan pemantauan dan patroli di wilayah rawan. Penguatan deteksi dini dinilai penting agar setiap potensi kebakaran dapat ditangani sebelum berkembang dan meluas.
Dengan ribuan titik panas yang masih terpantau, situasi karhutla di Kalimantan hingga kini masih membutuhkan perhatian dan kesiapsiagaan seluruh pihak. Pemerintah pun terus memperkuat koordinasi antara BNPB, BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau.
