Hidup Bukan Perlombaan Siapa Cepat
![]() |
| Sunrise mengajarkan bahwa, tidak perlu buru-buru. Cukup muncul, dan dunia akan ikut terang |
JEROWARU, PantauKabar.com - Hidup bukan siapa cepat atau paling tercepat, melainkan siapa yang akan sampai pada satu tujuan.
Banyak jalan yang akan terlewati, tidak mudah dan sangat sulit. Tetapi jika menggunakan hati, maka akan mengalir seperti air.
Sebagaimana firman Allah:
"Dan Kami akan uji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan." (QS. Al-Anbiya: 35)
Ujian itu bentuk dari "jalan" yang berbeda-beda untuk setiap kita.
Tidak ada kata terlambat, semua mempunyai cara masing-masing, semua mempunyai jalannya sendiri, yang terpenting adalah fokus pada tujuan yang ada di genggaman, fokus pada kompas yang akan dituju.
Allah juga berfirman:
"Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 105)
Artinya, proses dan ikhtiar kita akan selalu dilihat dan dinilai, berapapun lamanya.
Kita tidak akan tahu apa yang terjadi besok, bahkan satu jam setelah ini, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi, tetapi yang bisa kita lakukan adalah bagaimana cara menanggapi, merespons dengan penuh kebijaksanaan, agar hati nurani tetap terjaga. Banyak orang menanggapi sesuatu hal yang dihadapi dengan perasaan emosi, mengeluarkan dan menguras energi yang dimiliki. Sehingga yang terdampak bukan hanya diri sendiri melainkan orang di sekitarnya.
Dalam ilmu sosiologi, Emile Durkheim menyebut ini sebagai "solidaritas sosial". Bahwa individu tidak hidup sendiri. Ketika kita melampiaskan emosi dan menguras energi pada hal negatif, yang terdampak bukan hanya diri sendiri melainkan juga "ikatan sosial" di sekitar kita: keluarga, teman, dan masyarakat.
Banyak orang menanggapi sesuatu dengan emosi. Padahal menurut Max Weber, tindakan sosial yang rasional adalah tindakan yang dipikirkan tujuannya. Jika kita merespons dengan bijak, maka kita menjaga harmoni dan keteraturan sosial.
Oleh karena itu, mari berjalan dengan hati yang tenang. Seperti air yang terus mengalir, mengikis batu bukan dengan kekuatan, tetapi dengan konsistensi. Apapun yang dilakukan dengan hati dan konsistensi maka akan menghasilkan perubahan besar.
