Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Proses penyerahan sertifikat kepada pewaris Bubus Mangkung yakni, Abdul Kholiq oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur
Proses penyerahan sertifikat kepada pewaris Bubus Mangkung yakni, Abdul Kholiq oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur

LOMBOK TIMUR, PantauKabar.com - Tradisi lisan turun temurun masyarakat Sasak di Desa Jerowaru, Kecamatan Jerowaru akhirnya mendapat pengakuan negara. Bubus Mangkung resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI.

Penetapan ini disimbolkan dengan penyerahan sertifikat kepada pewaris Bubus Mangkung yakni, Abdul Kholiq oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur saat apel pagi di kantor Dikbud, Kamis (30/7/2026).

Perjalanan panjang menuju pengakuan ini tidaklah mudah dan singkat. Prosesnya dimulai dari penyusunan naskah, pengusulan lewat sistem nasional, verifikasi administrasi, kunjungan tim dari Kementerian Kebudayaan, hingga pembuatan video dokumentasi untuk membuktikan bahwa tradisi ini masih dijalankan dan eksis di masyarakat.

Kepala Dikbud Lombok Timur, Nurul Wathoni, menyebut pencapaian ini adalah hasil kerja keras bersama, semua pihak yang peduli pada budaya Sasak.

“Pengakuan dari pusat sudah kita pegang. Tapi ini bukan akhir. Tugas kita sekarang justru lebih berat: memastikan Bubus Mangkung tetap hidup di era modern,” tegasnya.

Wathoni juga mengapresiasi warga Desa Jerowaru, pegiat budaya, dan tim kebudayaan yang terus mengawal usulan ini. Ia berharap keberhasilan ini jadi pemicu untuk mendaftarkan budaya Sasak lain. Tahun ini Lombok Timur kembali mengusulkan 4 warisan budaya: Blanjakan Masbagik, Temerodok Sakra, dan Tenun Sapit. Ketiganya masih menunggu hasil verifikasi dari pusat.

Menurutnya, pendaftaran resmi penting agar budaya daerah terlindungi dan tidak diklaim pihak lain. “Ini cara kita menjaga jati diri bangsa Sasak yang kaya budaya,” ujarnya.

Sementara itu, Abdul Kholiq mengaku terharu dan bangga. Ia bangga sekaligus merasa mendapat tanggung jawab besar untuk melestarikan warisan leluhur. Ia berterima kasih kepada Pemkab Lotim dan Dikbud yang mendampingi prosesnya.

Namun ia juga menitip pesan agar pemerintah tidak berhenti hanya pada sertifikat semata. “Kami butuh dukungan nyata dari Bupati dan Gubernur NTB, supaya tradisi ini tidak punah karena kurang perhatian,” harapnya.

Dengan status WBTb, Bubus Mangkung kini bukan hanya milik Jerowaru, tapi sudah jadi kekayaan negara dan budaya nasional yang harus dijaga bersama dan tetap dilestarikan.

Di tengah gempuran teknologi dan modernisasi, serta perkembangan zaman pengakuan ini mengingatkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari gedung dan teknologi, tapi juga dari kemampuannya merawat akar budaya. Bubus Mangkung membuktikan, tradisi yang dirawat sungguh-sungguh akan tetap hidup dan dihargai sejarah.

Duta jr 10
Penulis Kontributor
Duta jr 10
Kontributor Pantau Kabar
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
  • Bubus Mangkung Jerowaru Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia