Motivasi dan Inspirasi: Reflektif Kesuksesan
![]() |
| Motivasi dan Inspirasi: Reflektif Kesuksesan |
MOTIVASI DAN INSPIRASI, PantauKabar.com - Terkadang kita hidup di dunia ini hanya fokus berdoa agar Tuhan segera mengabulkan segala keinginan, sampai akhirnya lupa bertanya pada diri sendiri, apakah hati, pikiran dan tindakan kita sudah siap menerima itu semua.
"Kita hanya berdoa bagaimana cara sukses, namun lupa bagaimana cara berfikir dan bertindak setelah sukses".
Padahal kenyataan, sukses bukan hanya mendapatkan segalanya secara instan, tetapi butuh proses jangka panjang yang konsisten terus menerus, tidak ada kata menyerah. Ketika gagal, berusaha untuk bangkit. Karena kegagalan bukan akhir dari segalanya. Dengan kegagalan kita bisa belajar banyak hal. Kegagalan adalah langkah awal menemukan cara terbaik untuk menuju kesuksesan, mengajarkan arti kebijaksanaan. Ketika kita jatuh, kita belajar sabar. Ketika berada di puncak kejayaan, kita diuji dengan ujian yang lebih berat: sombong, boros, dan apatis. Di sinilah kita dituntut untuk melewatinya dengan bijaksana.
Karena itu, selain berdoa "Ya Allah sukseskanlah" kita juga perlu berdoa "Ya Allah kuatkanlah untuk berpikir jernih dan bertindak benar setelah sukses itu datang". Berpikir tentang bagaimana uang itu dijaga agar berkah, bagaimana jabatan itu digunakan untuk melayani, dan bagaimana popularitas itu dipakai untuk memberi manfaat, bukan sekadar dipuji.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan dunia, dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu"
(QS. Al-Qash: 77)
Ayat ini mengingatkan dan mengajarkan bahwa sukses dan nikmat dunia adalah amanah. Kita boleh menikmatinya, tapi jangan lupa menggunakannya untuk kebaikan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya" Artinya, ukuran sukses sejati bukan seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan setelah memilikinya.
Jangan sampai doa kita diijabah, tapi diri kita belum siap mengembannya. Banyak orang hancur bukan saat mereka jatuh miskin, melainkan saat mereka sudah berada di atas. Bukan karena mereka gagal meraih, tapi karena mereka gagal menjaga. Karena mereka hanya menyiapkan doa untuk sampai, tapi tidak menyiapkan mental untuk menjaganya.
Maka mulai hari ini, mari kita lengkapi doa dengan persiapan. Latih diri berpikir jauh ke depan, latih diri bertindak dengan tanggung jawab, dan latih hati untuk tetap rendah meski diberi lebih. Agar ketika Allah menitipkan kesuksesan kepada kita, kita tidak tenggelam di dalamnya, melainkan menjadi jembatan agar orang lain juga ikut merasakan berkahnya.
