Bypass Lembar-Kayangan, Jalan Baru atau Luka Baru?
![]() |
|
| OLEH: HASAN IKHTIAR AKBAR |
Mega Proyek Bypass Lembar- Kayangan merupakan gagasan, penanda awal atau langkah yang layak disebut sebagai revolusi transportasi di Nusa Tenggara Barat. Mega Proyek senilai 3,5 Triliun ini akan menghubungkan Lembar-Kayangan sepanjang hampir 80 kilometer, jalur bebas hambatan port to port. Mega proyek ini akan mulai dibangun 2027.
Mega proyek ini tentu memberi nafas lega bagi transportasi di NTB, karena selama ini persoalan-persoalan masyarakat masih berkutat pada sesak dan macet.
Dengan adanya Bypass jalur selatan ini tentu akan memudahkan masyarakat dalam segala aspek. Simpel namun sangat penting dan bermanfaat, karena Pelabuhan Lembar yang ada di Barat, sampai Pelabuhan Kayangan yang ada di Timur, akan memangkas waktu tempuh 1 jam 45 menit, garis lurus tanpa hambatan. Tentu Lombok bagian selatan yang awalnya kurang diperhatikan akhirnya dapat giliran untuk tumbuh.
Namun semua yang sudah direncanakan dengan matang dan apa yang sudah menjadi gambaran akan menjadi boomerang untuk ke depan.
Teori Evolusi melalui seleksi alam, Charles Darwin menjelaskan bahwa adaptasi adalah kunci untuk bertahan hidup. Manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, maka dia akan mampu bertahan hidup. Sebaliknya, manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, maka dia tidak akan mampu bertahan hidup. Emile Durkheim juga menjelaskan bahwa bagaimana manusia atau orang bisa kehilangan pegangan saat perubahan datang terlalu cepat.
Durkheim juga menyebut ini adalah anomie, kondisi di mana norma lama runtuh, tapi norma baru belum terbentuk. Akan ada banyak masalah-masalah yang datang, mulai dari masalah sosial yang masyarakat akan alami, perubahan solidaritas yang kuat menjadi lemah seiring dengan kesibukan masing-masing. Dari masalah budaya, akses cepat ibaratnya seperti membuka pintu rumah, orang luar, budaya luar, cara hidup luar akan mudah untuk masuk. Kalau hal ini tidak diindahkan, tidak dijaga dengan baik, maka lambat laun akan tergeser. Bukan berarti menutup diri, tapi budaya, adat istiadat adalah filosofi masyarakat NTB.
Dari sisi ekonomi pariwisata, Bypass ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, berkah besar untuk wisata yang ada di Lombok bagian selatan. Semua akan serba instan, tidak ada lagi wisatawan yang terjebak macet, hotel, homestay, UMKM semakin berdampak manis. Tapi sisi pahitnya, kecenderungan masyarakat kita hanya menjadi penonton, karena harga lahan akan naik, bagi masyarakat lokal semakin susah, tapi bagi investor ini adalah lahan basah untuk pembangunan.
Akhirnya, Megaproyek ini memang jalan baru, tetapi bisa jadi luka baru kalau tidak bisa beradaptasi. SDM harus disiapkan, pemerintah harus berani buat aturan yang pro terhadap masyarakat, jangan hanya melihat investor sebagai target semata.
