Gunung Anak Krakatau Erupsi, Lava Pijar dan Dentuman Terdengar
![]() |
| Erupsi Gunung Krakatau menyebabkan warga-warga lebih waspada dengan dampak yang ditimbulkan. |
LAMPUNG, Pantaukabar.com - Gunung Anak Krakatau erupsi kembali menjadi perhatian pada Sabtu (5/9/2026). Aktivitas vulkanik gunung api yang berada di kawasan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, tersebut dilaporkan berlangsung sejak Jumat (4/9) malam hingga Sabtu pagi. Erupsi disertai fenomena air mancur lava atau lava fountain serta suara gemuruh dan dentuman yang terdengar dari sejumlah lokasi pemantauan.
Berdasarkan laporan aktivitas vulkanik yang dikutip dari Magma Indonesia, erupsi menerus tercatat mulai Jumat malam sekitar pukul 23.07 WIB. Aktivitas tersebut masih berlangsung ketika laporan pengamatan dibuat pada Sabtu pagi.
Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini terjadi setelah sebelumnya sejumlah erupsi juga tercatat pada Jumat pagi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung api di Selat Sunda masih cukup tinggi dan terus dipantau oleh petugas.
Gunung Anak Krakatau Erupsi Sejak Jumat Malam
Rangkaian Gunung Anak Krakatau erupsi tidak hanya terjadi satu kali. Pada Jumat pagi, sejumlah letusan terekam oleh peralatan pemantauan. Salah satu erupsi yang dapat diamati secara visual terjadi pada pukul 05.46 WIB.
Saat itu, kolom abu vulkanik dilaporkan mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut. Kolom abu tersebut berwarna hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah barat hingga barat laut. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 70 milimeter dan berlangsung sekitar 27 detik.
Aktivitas kemudian kembali meningkat pada Jumat malam. Fenomena lava fountain atau air mancur lava dilaporkan muncul saat erupsi berlangsung. Kondisi ini membuat aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menjadi sorotan, terutama karena gunung tersebut berada di kawasan Selat Sunda yang menjadi jalur pelayaran dan kawasan wisata.
Selain semburan material vulkanik, suara gemuruh dan dentuman juga terdengar dari Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Pasauran. Laporan mengenai aktivitas tersebut kemudian ramai diperbincangkan masyarakat dan media sosial.
Radius 3 Kilometer Jadi Zona yang Harus Dihindari
Di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, masyarakat dan wisatawan diminta tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau. Imbauan keselamatan tersebut berlaku bagi masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki.
Area dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif harus dihindari karena aktivitas erupsi masih dapat terjadi. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk zona bahaya dan selalu mengikuti perkembangan informasi dari otoritas terkait.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial apabila tidak berasal dari sumber resmi.
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Perhatian
Fenomena Gunung Anak Krakatau erupsi kali ini terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas sejumlah gunung api di Indonesia. Sebelumnya, PVMBG juga menjelaskan bahwa beberapa gunung api di Indonesia sempat mengalami erupsi dalam periode yang berdekatan pada akhir Agustus.
Namun, PVMBG memastikan bahwa erupsi beberapa gunung api tersebut merupakan dinamika vulkanik masing-masing dan tidak berarti satu gunung memicu gunung lainnya. Indonesia memang memiliki banyak gunung api aktif karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.
Karena itu, masyarakat di sekitar Selat Sunda tidak perlu menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau. Informasi mengenai status gunung, perkembangan erupsi, maupun rekomendasi keselamatan sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan Magma Indonesia.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menjadi pengingat bahwa kondisi gunung api dapat berubah dalam waktu singkat. Pemantauan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan aktivitas vulkanik dan potensi bahaya yang mungkin terjadi.
Hingga Sabtu pagi, aktivitas erupsi masih menjadi perhatian petugas. Masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda diimbau tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, menjauhi radius 3 kilometer dari kawah aktif, serta mengikuti setiap pembaruan informasi resmi.
Gunung Anak Krakatau erupsi bukan berarti masyarakat harus panik, tetapi menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan memastikan setiap informasi mengenai aktivitas gunung api berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
