Gangguan Distribusi Picu Kelangkaan BBM di Sumatera Utara
![]() |
| Sejumlah pengendara sepeda motor mengantre untuk membeli BBM bersubsidi jenis Pertalite di salah satu SPBU di Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia |
SUMATERA UTARA, PantauKabar.com- Polisi Sumatera Utara mengerahkan ratusan personel ke SPBU di seluruh wilayah Medan dan sekitarnya untuk mengamankan situasi menyusul krisis pasokan bahan bakar yang telah berlangsung lebih dari seminggu. Krisis ini menyebabkan antrean kendaraan mencapai 13 kilometer (km) di beberapa lokasi.
Lebih dari 780 personel kepolisian ditugaskan di 325 SPBU secara bergiliran selama 24 jam untuk memastikan keamanan masyarakat, mengatur arus lalu lintas, dan mencegah terjadinya kerusuhan saat warga berebut mendapatkan pasokan bensin dan solar.
Selain menjaga SPBU, polisi juga mengawal truk tangki Pertamina guna mempercepat pemasokan bahan bakar ke wilayah yang terdampak.
Juru Bicara Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Ferry Walintukan, menyampaikan kehadiran personel kepolisian bertujuan untuk memastikan proses pembelian bahan bakar berlangsung lancar, tertib dan aman.
"Ratusan personel ditempatkan di SPBU selama 24 jam untuk mencegah gangguan keamanan maupun kejadian yang tidak diinginkan akibat terbatasnya pasokan bahan bakar," ujarnya.
Kepala Biro Operasi Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Dwi Tunggal Jaladri, juga menyatakan langkah tersebut juga bertujuan agar distribusi bahan bakar dapat berlangsung lebih cepat kepada masyarakat.
"Kami ingin mencegah situasi menjadi lebih baik, terutama di SPBU yang memiliki antrean panjang. Masyarakat diharapkan mendapatkan bahan bakar secara tertib tanpa mengganggu kelancaran lalu lintas," katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying, karena pasokan bahan bakar secara nasional masih mencukupi.
"Masalah utamanya adalah gangguan pada sistem distribusi, bukan karena kekurangan stok," tambahnya.
Krisis bahan bakar tersebut berdampak pada sejumlah wilayah di Sumatera Utara, terutama di Medan dan Langkat, serta mulai meluas hingga Aceh.
Di Kabupaten Langkat, antrean kendaraan dilaporkan mencapai sekitar 13 kilometer, mulai dari sebuah SPBU di Wampu hingga Tanjung Pura, melibatkan ribuan mobil pribadi, bus antarkota, dan truk logistik.
Sebagian kendaraan bahkan kehabisan bahan bakar saat masih menunggu giliran untuk mengisi di SPBU.
Krisis serupa juga dirasakan di Aceh, khususnya di Aceh Tamiang dan Subulussalam, di mana banyak pengemudi terpaksa menginap di SPBU demi mendapatkan solar subsidi (Biosolar) dan bensin subsidi (Pertalite).
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Efendi, mengatakan kelangkaan pasokan tersebut turut mengganggu sektor transportasi darat.
"Banyak truk logistik yang mengangkut barang ke Sumatera Utara tidak dapat beroperasi karena tidak memiliki bahan bakar," ujarnya.
Menanggapi gangguan tersebut, PT Pertamina Patra Niaga mengambil sejumlah langkah darurat untuk menstabilkan pasokan, antara lain mengoperasikan Terminal Terpadu Medan selama 24 jam, mengerahkan 30 truk tangki tambahan, serta menambah tenaga kerja di bidang distribusi.
Manajer Komunikasi, Hubungan, dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan pasokan ke beberapa SPBU dikurangi sementara agar bahan bakar dapat diprioritaskan ke wilayah yang mengalami kondisi paling kritis.
"Sisa kuota akan kami kirimkan kembali ke SPBU yang terdampak setelah situasi kembali normal. Pola distribusi ini dilakukan agar pasokan dapat dinikmati secara lebih merata," katanya.
Ia juga mengonfirmasi bahwa lebih dari 100 sopir truk tangki telah diberhentikan selama enam bulan pertama tahun ini karena terbukti melanggar prosedur operasional standar (SOP), termasuk melakukan pencampuran bahan bakar.
Kondisi tersebut menyebabkan kekurangan pengemudi truk tangki sehingga mengganggu proses distribusi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pertamina kini memanfaatkan pengemudi dari terminal lain serta memperoleh bantuan personel Korps Perbekalan dan Angkutan (Bekang) TNI Angkatan Darat.
Namun, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menyampaikan bahwa gangguan pasokan terjadi akibat masalah distribusi setelah pemberhentian besar-besaran sopir truk tangki, bukan karena meningkatnya konsumsi seperti yang disampaikan Pertamina.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara kini bekerja sama dengan TNI dan Polri untuk menyediakan pengemudi sementara agar distribusi bahan bakar dapat kembali berjalan tanpa hambatan.
Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Indonesia, Yuliot Tanjung, menegaskan bahwa stok bahan bakar nasional masih mencukupi dan krisis yang terjadi semata-mata disebabkan oleh gangguan teknis dalam rantai distribusi.
Ia mengatakan tim khusus telah diterjunkan ke lapangan untuk mengidentifikasi penyebab utama gangguan tersebut sekaligus mempercepat pemulihan pasokan di daerah-daerah yang terdampak.
