Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal

Trend joget-joget pasca kelulusan
Trend joget-joget pasca kelulusan



Sekolah seharusnya jadi rumah kedua bagi anak-anak. Tempat mereka berakar, bertumbuh dan berbuah, bukan cuma secara otak tapi juga pikiran dan tindakan. Pikiran yang baik akan mengarah kepada tindakan yang positif, begitu sebaliknya, pikiran yang tidak baik akan mengarah kepada tindakan yang negatif.

Sayangnya, masih banyak sekolah yang hari ini berfungsi hanya sebagai gedung, bukan tempat belajar dan mengasah ilmu yang dimiliki. Ada bangku, ada papan tulis, ada guru yang datang dan pulang tepat waktu. Tapi proses belajar yang menghidupkan akal dan karakter itu pelan-pelan menghilang.

Di sekolah yang tidak berfungsi semestinya, kelas berubah jadi ruangan untuk mencatat. Guru menulis, siswa menyalin, lalu semua dihafal untuk ujian. Anak-anak jadi jago mengingat, tapi gagap ketika ditanya "kenapa" dan "bagaimana". Mereka lulus dengan nilai bagus di kertas, tapi bingung saat dihadapkan pada masalah nyata di luar sana. Diskusi mati, rasa ingin tahu dipangkas, yang ada cuma target mengejar kurikulum agar cepat selesai.

Ironisnya, energi dan kreativitas anak yang seharusnya disalurkan di kelas justru tumpah ke tempat lain. Survei KPAI 2023 mencatat hampir 78 persen anak usia sekolah mengaku lebih sering menghabiskan waktu 4-6 jam sehari untuk media sosial. Konten yang paling banyak mereka buat dan tonton bukan diskusi buku atau eksperimen sains, tapi video joget-joget, lip sync, dan tren tantangan. Anak jadi lebih fasih menirukan gerakan 15 detik daripada berani tampil presentasi 5 menit di depan kelas. Rasa percaya diri mereka tumbuh di layar, tapi kaku dan malu saat harus bicara di forum nyata. Sekolah gagal jadi panggung, akhirnya media sosial yang jadi panggung mereka.

Guru di dalamnya pun ikut tertekan. Alih-alih fokus menyiapkan cara mengajar yang bikin siswa paham, waktu mereka habis untuk administrasi. Laporan ini itu, aplikasi itu ini, absen digital, bukti fisik. Niat untuk mengajar dengan hati jadi kalah oleh tumpukan pekerjaan yang tak kunjung habis. Pelan-pelan semangat mereka padam, karena merasa kerja kerasnya tidak benar-benar menyentuh murid. Padahal kalau ruang kelas dibuat sehidup media sosial, anak-anak pasti mau tampil, mau bertanya, mau berkarya di sana.

Masalahnya bukan berhenti di ruang kelas. Karakter anak jadi taruhan. Ketika sekolah gagal jadi tempat menempa adab, maka bullying, tawuran, dan sikap tidak peduli tumbuh subur. Anak-anak tidak belajar cara menghargai perbedaan, tidak belajar tanggung jawab, tidak belajar gagal lalu bangkit. Mereka hanya belajar bahwa yang penting nilainya tinggi, urusan lain belakangan. Ditambah algoritma media sosial yang terus menyuguhkan konten instan, anak makin sulit sabar untuk proses belajar yang panjang dan berulang.

Akar semua ini bukan satu hal saja. Kepemimpinan sekolah yang tidak punya arah membuat semuanya berjalan tanpa tujuan. Sumber daya yang timpang antara sekolah kota dan desa membuat sebagian anak harus puas dengan fasilitas seadanya, bahkan guru honorer yang gajinya telat. Tekanan sistem yang menuntut lulus seratus persen juga memaksa sekolah memilih jalan pintas. Yang lemah ditinggal, yang kuat dipacu. Padahal pendidikan seharusnya mengangkat semua, termasuk anak yang bakatnya bukan di angka tapi di seni, di bicara, dan jiwa kepemimpinan.

Dampaknya baru terasa beberapa tahun kemudian. Ada angkatan demi angkatan yang keluar dari sekolah tapi tidak siap hidup. Tidak siap kerja, tidak siap kuliah, tidak siap jadi warga yang kritis dan peduli. Mereka jago tampil di kamera, tapi gagap saat diminta memimpin diskusi atau menyelesaikan konflik. Tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kerugian satu generasi seperti ini tidak bisa dihitung dengan uang. Bangsa jadi kehilangan tenaga yang seharusnya bisa membangun.

Memperbaiki sekolah yang sakit seperti ini tidak bisa menunggu anggaran besar datang. Ia harus dimulai dari keberanian kepala sekolah untuk kembali menjadi pemimpin pembelajaran, bukan sekadar administrator. Guru harus diberi ruang untuk benar-benar mengajar dan membuat kelas sehidup konten yang disukai anak. Orang tua harus diajak masuk, bukan hanya dipanggil saat anak bermasalah, agar gawai di rumah juga punya aturan. Dan keberhasilan sekolah harus diukur dari proses yang konsisten, bukan hanya angka di rapor. Anak yang berani bertanya, berani salah, mau bekerja sama, dan berani tampil dengan ide sendiri, itu juga bentuk keberhasilan yang jauh lebih mahal dari nilai seratus.

Sekolah yang hebat bukan yang bangunannya paling megah. Sekolah yang hebat adalah tempat di mana anak pulang membawa dua hal setiap hari: ilmu yang nyambung dengan hidupnya, dan hati yang makin baik. Hati yang baik akan meningkatkan kepekaan terhadap apapun yang ada di sekitar. Selama dua hal itu tidak ada, dan panggung terbaik anak masih di media sosial joget-joget, maka selama itu pula sekolah belum berfungsi seperti semestinya.

Duta
Penulis Kontributor
Duta
Kontributor Pantau Kabar
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal
  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal
  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal
  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal
  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal
  • Ketika Sekolah Tak Lagi Jadi Rumah Kedua: Potret Sekolah yang Tak Berfungsi Maksimal